Otak Logika vs Otak Emosi

Beberapa bulan yang lalu, saya dan tim pulang dari kelas pelatihan leadership di area Jababeka.
Di tengah perjalanan, mobil kami terhenti karena ada sebuah mobil lain yang melintang di tengah jalan.
Saya tunggu sampai mobil itu maju.

Karena tidak kunjung bergerak, saya klakson beberapa kali.
Tiba-tiba, mobil tersebut bergerak mundur dengan cepat. Sehingga menghantam mobil saya.
Saya mendengar suara braaakkkk.. Seperti ada sesuatu yang pecah atau rusak.
Kemudian mobil itu melaju pergi.

Dalam hati saya berkata “wah, lampu depan pecah nih..”.
Meskipun cukup kaget, saya diam beberapa saat.
Kemudian dengan tenang melanjutkan perjalanan seperti biasa.

Tim saya bertanya “kenapa tidak dikejar pak?”
Saya jawab “Tidak usah. Kalau pun nanti harus ketemu, kita pasti akan ketemu”.
Saya minggir sebentar dan mengecek kondisi.
Seperti dugaan, lampu kiri pecah dan kap mobil sedikit penyok.

Coba bayangkan Anda di posisi saya.
Bagaimana perasaan Anda?
Kalimat apa yang terucap dalam pikiran saat kejadian itu terjadi?
Emosi Anda tetap netral atau mulai terpancing?
Apa yang akan Anda lakukan terhadap pengemudi mobil yang menabrak?

Umumnya orang akan bereaksi penuh emosi. Mungkin mencoba mengejar dan meminta ganti rugi.
Karena penuh emosi negatif, seringkali pada akhirnya melakukan tindakan yang berlebihan dan disesalkan.

Mengapa orang umumnya langsung bereaksi emosional ketika ada sesuatu yang di luar dugaan seperti tadi?

Sederhananya ada otak emosi (otak yang responnya lebih ke emosional, fight, flight, freeze), dan ada otak logika (otak yang berpikir, mempertimbangkan berbagai sisi).

Setiap kali ada kejadian yang tidak menyenangkan, di luar dugaan, otak yang pertama kali “menyala” adalah otak emosi.

Otak emosi tidak melakukan pertimbangan dan langsung memerintahkan memberikan respon.
Respon yang diberikan berupa tindakan fight (melawan, mengejar, berteriak), flight (kabur, melarikan diri) atau freeze (diam, menangis, pingsan).

Karena tidak terlalu banyak pertimbangan, seringkali keputusan yang diambil pun kurang tepat. Respon tindakan yang diberikan pun malah menambah masalah baru. Dan akhirnya orang menyesal.

Mungkin Anda tiba-tiba teringat satu momen dimana Anda emosi, marah besar, dan akhirnya menyesal karena “kebablasan”.

Kapan otak logika “menyala”? Riset mengatakan bahwa diperlukan waktu minimal enam detik sampai otak logika menyala.
Artinya Anda harus menunggu enam detik sebelum memberi respon apapun.

Setelah enam detik, otak logika menyala, dan Anda mulai bisa berpikir lebih jernih, mempertimbangkan untung rugi, serta mengambil keputusan yang lebih tepat.
Ketika keputusan tepat, tindakannya tepat, hasilnya juga lebih baik.

Jadi, bagaimana saya menggunakan teknik enam detik ini?

Saat Anda mengalami situasi yang tidak menyenangkan, di luar dugaan, jangan langsung memberikan respon.
Diam sejenak minimal enam detik. Ijinkan otak logika Anda menyala. Anda mulai bisa melihat sisi negatif dan positif dari opsi tindakan yang ada.

Kemudian pilih respon tindakan yang paling tepat.
Hasilnya pasti akan jauh lebih baik ketimbang Anda langsung merespon secara emosional.
Sederhana kan.

Kembali lagi ke cerita saya. Beberapa ratus meter dari kejadian, saya melihat lagi mobil yang menabrak saya. Posisinya sedang menabrak papan iklan di pinggir jalan. Ternyata pengemudi tersebut mabuk. Saya segera proses ke kepolisian, dan pengemudi tersebut bersedia mengganti uang perbaikan kendaraan. Happy ending!

No matter the situation, never let emotions overpower your intelligence.
Tahan minimal enam detik. Gunakan otak logika. Respon lebih tepat dan Anda akan jauh lebih happy.

Salam sukses

For More Article 
Download Online Learning Apps
Klik Di sini > Mindset Mobile Apps

Training Leadership Motivasi Presentasi Komunikasi Sales Teambuilding Terbaik Bekasi, Cikarang, Cibitung, Karawang, Purwakarta
Training Leadership Motivasi Presentasi Komunikasi Sales Teambuilding Terbaik Bekasi, Cikarang, Cibitung, Karawang, Purwakarta
Training Leadership Motivasi Presentasi Komunikasi Sales Teambuilding Terbaik Bekasi, Cikarang, Cibitung, Karawang, Purwakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *